Jumat, 18 April 2014

COCOMO dan sebutkan jenis-jenisnya

Nama : Muhammad Reza
NPM : 14110618
Kelas : 4 Ka 05


Pertanyaan : Buatlah minimal3 paragraf mengenai COCOMO dan sebutkan jenis-jenisnya pada blog anda lakukan submit pada tulisan pada portofolio di studensite.


COCOMO adalah singkatan dari Constructive Cost Model yaitu algortima model estimasi biaya perangkat lunak yang dikembangkan dan diterbitkan oleh Barry Boehm. Cocomo merupakan sebuah model – model untuk memperkirakan usaha, biaya dan jadwal untuk proyek-proyek perangkat lunak.
COCOMO pertama kali diterbitkan pada tahun 1981 Barry Boehm W. ‘s Book rekayasa ekonomi Perangkat Lunak sebagai model untuk memperkirakan usaha, biaya, dan jadwal untuk proyek-proyek perangkat lunak. Ini menarik pada studi dari 63 proyek di TRW Aerospace mana Barry Boehm adalah Direktur Riset dan Teknologi Perangkat Lunak pada tahun 1981. Penelitian ini memeriksa proyek-proyek ukuran mulai dari 2.000 sampai 100.000 baris kode , dan bahasa pemrograman mulai dari perakitan untuk PL / I . Proyek-proyek ini didasarkan pada model waterfall pengembangan perangkat lunak yang merupakan pengembangan software proses lazim pada tahun 1981.
Macam-macam COCOMO :

1. Basic COCOMO menghitung usaha pengembangan perangkat lunak (dan biaya) sebagai fungsi dari ukuran program yang. Ukuran Program dinyatakan dalam perkiraan ribuan baris kode sumber ( SLOC )
COCOMO berlaku untuk tiga kelas proyek perangkat lunak:
  • Proyek Organik – “kecil” tim dengan “baik” pengalaman bekerja dengan “kurang kaku” persyaratan
  • Proyek semi-terpisah – “menengah” tim dengan pengalaman bekerja dicampur dengan campuran kaku dan kurang dari kebutuhan kaku
  • Proyek tertanam – dikembangkan dalam satu set “ketat” kendala. Hal ini juga kombinasi proyek organik dan semi-terpisah. ( Hardware, software, operasional ).

2. Medium COCOMO menghitung usaha pengembangan perangkat lunak sebagai fungsi dari ukuran program yang dan satu set “driver biaya” yang mencakup penilaian subjektif dari produk, perangkat keras, personil dan atribut proyek. Ekstensi ini mempertimbangkan satu set empat “driver biaya”, masing-masing dengan sejumlah atribut anak.

3. Detail COCOMO menggabungkan semua karakteristik versi intermediate dengan penilaian dampak cost driver di setiap langkah (analisis, desain, dll) dari proses rekayasa perangkat lunak.
Model rinci menggunakan pengganda usaha yang berbeda untuk setiap cost driver atribut. Ini Tahap pengganda upaya Sensitif masing-masing untuk menentukan jumlah usaha yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap tahap.
Dalam rinci COCOMO, upaya dihitung sebagai fungsi dari ukuran program yang dan satu set driver biaya yang diberikan sesuai dengan setiap fase siklus hidup perangkat lunak.
Sebuah jadwal proyek rinci tidak pernah statis.
Kelima fase rinci COCOMO adalah :
  • rencana dan kebutuhan.
  • desain sistem.
  • desain rinci.
  • kode modul dan uji.
  • integrasi dan pengujian.

sumber :
http://translate.google.com/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/COCOMO&prev=/search%3Fq%3Dcocomo%26biw%3D1280%26bih%3D699&sa=X&ei=QOpnUb3NIoXsrAeDlIGgCg&ved=0CC4Q7gEwAA
http://jappar0.blogspot.com/2012/04/pengertian-cocomo-dan-jenis-jenis.html
http://ndtndt-bagol.blogspot.com/2012/06/cocomo-dan-jenis-jenisnya.html

Kriteria Manager Proyek yang baik

Nama : Muhammad Reza
Npm : 14110618
Kelas : 4Ka05

Pertanyaan: Sebutkan kreteria manager proyek yang baik ! buatlah di blog anda minimal 3 paragraf dan upload ke student site sebagai tulisan.


Manager adalah orang atau seseorang yang harus mampu membuat orang-orang dalam organisasi yang berbagai karakteristik, latar belakang budaya, akan tetapi memiliki ciri yang sesuai dengan tujuan (goals) dan teknologi (technology).

Dan tugas seorang manager adalah bagaimana mengintegrasikan berbagai macam variabel (karakteristik, budaya, pendidikan dan lain sebagainya) kedalam suatu tujuan organisasi yang sama dengan cara melakukan mekanisme penyesuaian.
Adapun mekanisme yang diperlukan untuk menyatukan variabel diatas adalah sebagai berikut:

    Pengarahan (direction) yang mencakup pembuatan keputusan, kebijaksanaan, supervisi, dan lain-lain.
    Rancangan organisasi dan pekerjaan.
    Seleksi, pelatihan, penilaian, dan pengembangan.
    Sistem komunikasi dan pengendalian.
    Sistem reward.

Hal tersebut memang tidak mengherankan karena posisi Manajer Proyek memegang peranan kritis dalam keberhasilan sebuah proyek terutama di bidang teknologi informasi. Berikut ini kualifikasi teknis maupun nonteknis yang harus dipenuhi seorang Manajer Proyek yang saya sarikan dari IT Project Management Handbook.

Tiga karakteristik yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kualifikasi seseorang untuk menjadi Manajer Proyek yaitu:

   - Karakter Pribadinya
   - Karakteristik Kemampuan Terkait dengan Proyek yang Dikelola
   - Karakteristik Kemampuan Terkait dengan Tim yang Dipimpin

Karakter Pribadinya
   - Memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai teknis pekerjaan dari proyek yang dikelola olehnya.
   - Mampu bertindak sebagai seorang pengambil keputusan yang handal dan bertanggung jawab.
   - Memiliki integritas diri yang baik namun tetap mampu menghadirkan suasana yang mendukung di lingkungan tempat dia bekerja.
    Asertif
    Memiliki pengalaman dan keahlian yang memadai dalam mengelola waktu dan manusia.

Karakteristik Kemampuan Terkait dengan Proyek yang Dikelola
    Memiliki komitmen yang kuat dalam meraih tujuan dan keberhasilan proyek dalam jadwal, anggaran dan prosedur yang dibuat.
    Pelaksanakan seluruh proses pengembangan proyek IT sesuai dengan anggaran dan waktu yang dapat memuaskan para pengguna/klien.
    Pernah terlibat dalam proyek yang sejenis.
    Mampu mengendalikan hasil-hasil proyek dengan melakukan pengukuran dan evaluasi kinerja yang disesuaikan dengan standar dan tujuan yang ingin dicapai dari proyek yang dilaksanakan.
    Membuat dan melakukan rencana darurat untuk mengantisipasi hal-hal maupun masalah tak terduga.
    Membuat dan menerapkan keputusan terkait dengan perencanaan.
    Memiliki kemauan untuk mendefinisikan ulang tujuan, tanggung jawab dan jadwal selama hal tersebut ditujukan untuk mengembalikan arah tujuan dari pelaksanaan proyek jika terjadi jadwal maupun anggaran yang meleset.
    Membangun dan menyesuaikan kegiatan dengan prioritas yang ada serta tenggat waktu yang ditentukan sebelumnya.
    Memiliki kematangan yang tinggi dalam perencanaan yang baik dalam upaya mengurangi tekanan dan stres sehingga dapat meningkatkan produktifitas kerja tim.
    Mampu membuat perencanaan dalam jangka panjang dan jangka pendek.

Karakteristik Kemampuan Terkait dengan Tim yang Dipimpin
    Memiliki kemampuan dan keahlian berkomunikasi serta manajerial.
    Mampu menyusun rencana, mengorganisasi, memimpin, memotivasi serta mendelegasikan tugas secara bertanggung jawab kepada setiap anggota tim.
    Menghormati para anggota tim kerjanya serta mendapat kepercayaan dan penghormatan dari mereka.
    Berbagi sukses dengan seluruh anggota tim.
    Mampu menempatkan orang yang tepat di posisi yang sesuai.
    Memberikan apresiasi yang baik kepada para anggota tim yang bekerja dengan baik.
    Mampu mempengaruhi pihak-pihak lain yang terkait dengan proyek yang dipimpinnya untuk menerima pendapat-pendapatnya serta melaksanakan rencana-rencana yang disusunnya.
    Mendelegasikan tugas-tugas namun tetap melakukan pengendalian melekat.
    Memiliki kepercayaan yang tinggi kepada para profesional terlatih untuk menerima pekerjaan-pekerjaan yang didelegasikan darinya.
    Menjadikan dirinya sebagai bagian yang terintegrasi dengan tim yang dipimpinnya.
    Mampu membangun kedisiplinan secara struktural.
    Mampu mengidentifikasi kelebihan-kelebihan dari masing-masing anggota tim serta memanfaatkannya sebagai kekuatan individual.
    Mendayagunakan setiap elemen pekerjaan untuk menstimulasi rasa hormat dari para personil yang terlibat dan mengembangkan sisi profesionalisme mereka.
    Menyediakan sedikit waktu untuk menerima setiap ide yang dapat meningkatkan kematangan serta pengembangan dirinya.
    Selalu terbuka atas hal-hal yang mendorong kemajuan.
    Memahami secara menyeluruh para anggota tim yang dipimpinnya dan mengembangkan komunikasi efektif di dalamnya.

Reff:
http://www.setiabudi.name/archives/990
http://belajarmanagement.wordpress.com/2009/03/23/pengertian-dan-tugas-manager/

Kamis, 17 April 2014

Open Source Lebih baik. Keuntungan dan Kerugian Open Source Software

Tugas Pengelolaan Proyek Sistem Informasi

Nama : Muhammad Reza
NPM : 14110618
Kelas : 4 Ka 05
Pertanyaan :

Kenapa anda dianjurkan menggunakan software open source dalam membuat aplikasi ? Buatlah keuntungan dan kerugiannya dalam blog anda sebagai tulisan bila anda submid ke studentsite. Minimal 4 paragraf. Tulislah sumber yang anda pakai.

Jawaban :

                  Keuntungan dan Kerugian Open Source Software

             Dizaman ini, menuntut kita untuk selalu terus mengikuti perkembangan teknologi yang serba canggih. Mulai dari kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, peralatan elektronik semua dikemas secara canggih serta mudah dalam penggunaannya. Hal ini juga terus terjadi pada perkembangan software. Pada proses pembuatan suatu aplikasi dibutuhkan suatu software yang berkualitas. Begitu banyak pilihan software yang dapat digunakan untuk pembuatan suatu aplikasi merupakan suatu pilihan pembuat aplikasi itu sendiri. Salah satu pilihan software itu adalah Open Source Software.  Kini, Open Source Software semakin banyak diiminati oleh berbagai kalangan.
          Menurut David Wheeler, secara umum program yang dinamakan Open Source Software (perangkat lunak sumber terbuka) adalah program yang lisensinya memberi kebebasan kepada pengguna menjalankan program untuk apa saja, mempelajari dan memodifikasi program, dan mendistribusikan penggandaan program asli atau yang sudah dimodifikasi tanpa harus membayar royalti kepada pengembang sebelumnya. Open Source Software (OSS), menurut Esther Dyson (1998), didefinisikan sebagai perangkat lunak yang dikembangkan secara gotong-royong tanpa koordinasi resmi, menggunakan kode program (source code) yang tersedia secara bebas, serta didistribusikan melalui internet.                             
OSS identik dengan Free Software. Perlu digarisbawahi, definisi free disini bukan berarti gratis, namun free disini berarti bebas. Bebas ini dijabarkan menjadi empat buah, yaitu: 1. Kebebasan untuk menjalankan programnya untuk tujuan apa saja. 2. Kebebasan untuk mempelajari bagaimana program itu bekerja serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda. Akses pada kode program merupakan suatu prasyarat. 3. Kebebasan untuk menyebarluaskan kembali hasil salinan perangkat lunak tersebut sehingga dapat membantu sesama. 4. Kebebasan untuk meningkatkan kinerja program, dan dapat menyebarkannya ke khalayak umum sehingga semua menikmati keuntungannya. Akses pada kode program merupakan suatu prasyarat juga.                                 

          Open Source Software ini merupakan pilihan yang tepat untuk pembuatan suatu aplikasi, hal itu dikarenakan banyak keuntungan yang dapat diperoleh, antara lain :
a. Ketersedian source code dan hak untuk memodifikasi
Hal ini sangat penting karena menyebakan perubahan dan improvisasi pada produk software. Selain itu, hal ini memunculkan kemungkinan untuk meletakan code pada hardware baru, agar dapat diadaptasi pada situasi yang berubah-ubah, dan menjangkau pemahaman bagaimana sistem itu bekerja secara detail.
b. Hak untuk mendistribusikan modifikasi dan perbaikan pada code
Hal ini merupakan titik perbedaan Open Source Software dengan Free Software. Pada kenyataannya, hak pendistribusian diakui dan merupakan hal yang umum, ini adalah hal yang berpengaruh bagi sekumpulan developer ( pengembang ) untuk bekerja bersama dalam project Open Source Software.
c. Hak untuk menggunakan software
Ini merupakan kombinasi dari hak pendistribusian, menjamin ( jika software cukup berguna ) beberapa user yang mana membantu dalam menciptakan pasar untuk mendukung dan berlangganan software. Hal ini juga membantu dalam improvisasi kualitas dari produk dan improvisasi secara fungsi. Selain itu akan menyebabkan sejumlah user untuk mencoba produk dan mungkin menggunakannya secara regler.
d. Legal
Indonesia berada pada posisi nomor 4 negara pembajak terbesar di dunia. Hal ini
menyebabkan posisi tawar-menawar Indonesia melemah di dunia perdagangan, dan menjadikan Indonesia menuai kecaman dari negara-negara lainnya. Penggunaan software Open Source di seluruh Indonesia akan menyebabkan tingkat pembajakan software di Indonesia menjadi turun drastis, dari 88% menjadi 0%.
e. Penyelamatan Devisa Negara
Software yang banyak dipakai untuk mengetik harganya adalah US$ 600.Untuk perbandingan, harga laptop adalah sekitar US$ 435 . Dan pendapatan per kapita/bulan adalah hanya sekitar US$ 134.Dengan menggunakan solusi berbasis Open Source, maka dapat dilakukan penghematan devisa negara secara signifikan.Kemudian dana tersebut dapat dialokasikan ke usaha-usaha untuk kesejahteraan rakyat.
f. Keamanan Negara atau Perusahaan
Di tahun 1982, terjadi ledakan dahsyat di jalur pipa gas Uni Sovyet di Siberia. Kekuatan ledakan tersebut sekitar 3 kiloton, atau 25% dari kekuatan bom nuklir Hiroshima.16 tahun kemudian baru diketahui oleh publik bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh software komputer proprietary / tertutup yang telah diubah oleh CIA. Software Open Source bebas dari bahaya ini, karena bisa dilakukan audit terhadap kode programnya.
g. Keamanan Sistem
Virus, spyware, trojan, dan berbagai masalah keamanan lainnya, sudah akrab dengan banyak pengguna komputer. Pada topik keamanan sistem, satu buah lubang keamanan saja sudah cukup untuk menjadi jalan masuk penjahat.
            Selain memiliki banyak keuntungan,  Open Source Software juga memiliki kerugian, antara lain :
a. Tidak ada garansi dari pengembangan
Biasanya terjadi ketika sebuah project dimulai tanpa dukungan yang kuat dari satu atau beberapa perusahaan, memunculkan celah awal ketika sumber code masih mentah dan pengembangan dasar masih dalam pembangunan.
b. Masalah yang berhubungan dengan intelektual property
Pada saat ini, beberapa negara menerima software dan algoritma yang dipatentkan. Hal ini sangat sulit untuk diketahui jika beberapa motede utama untuk menyelesaikan masalah software di patenkan sehingga beberapa komunitas dapat dianggap bersalah dalam pelanggaran intelektual property.
c. Kesulitan dalam mengetahui status project
Tidak banyak iklan bagi open source software, biasanya beberapa project secara tidak langsung ditangani oleh perusahaan yang mampu berinvestasi dan melakukan merketing.   

Sumber :
http://nyenyenk.blogspot.com/2008/12/keuntungan-dan-kerugian-dari-open.html http://mery-lemod.blogspot.com/2010/01/keuntungan-dan-kerugian-open-source.html  

Kamis, 03 April 2014

Rangkuman jurnal " Model Pemeringkatan Website Pemerintah Daerah di Indonesia "

        Pemeringkatan e-government di Indonesia sudah mulai dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika, namun pemeringkatan tersebut baru mencakup 11 provinsi dan belum menerapkan perhitungan peringkat secara otomatis dengan menggunakan mesin pencari yang dilengkapi dengan agent based crawler dan algoritma perhitungan parameternya. 

1. PENDAHULUAN

        Wujud nyata dan pengaplikasian e-government ang telah umum dilaksanakan dan diatur pelaksanaannya di Indonesia adalah pembuatan situs web pemerintah daerah. E-Government intinya adalah proses pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat untuk membantu menjalankan sistem pemerintahan secara lebih efektif dan efisien. Pembangunan situs web bagi pemerintah daerah di Indonesia merupakan implementasi dari Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003, yang isinya menggalakkan pemanfaatan teknologi informasi (Internet)    dalam    menunj ang    aktivitas pemerintahannya, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah menuju terwujudnya e- Government di Indonesia. Berdasarkan data [8] dari 470 pemerintah daerah baik tingkat provinsi, kotamadya maupun kabupaten terdapat 361 (77%) situs web pemerintah daerah, dan yang aktif atau bisa dibuka 316 situs web pemerintah daerah sisanya rusak, dalam pengembangan atau terkena sanksi (suspended).


        Jumlah situs web pemerintah daerah secara kuantitas cenderung meningkat seiring dengan kebijakan dan komitmen pemerintah Indonesia yang tertuang dalam roadmap pengembangan e- government di Indonesia.



2. LANDASAN TEORI 

2.1 Menurut    World    Bank,    e-Government

      Didefinisikan sebagai upaya pemanfaatan dan pendayagunaan telematika untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemerintahan, memberikan berbagai jasa pelayanan kepada masyarakat secara lebih baik, menyediakan akses informasi kepada publik secara lebih luas, dan menjadikan penyelenggaraan pemerintahan lebih bertanggung jawab (accountable) serta transparan kepada masyarakat. Intinya menurut [3] e-Government adalah proses pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat untuk membantu menjalankan sistem pemerintahan secara lebih efektif dan efisien.

Model      e-Government                   yang     diterapkan
menggunakan model empat tahapan perkembangan yang meliputi [3] :



a.  Fase pertama, berupa penampilan website web (web presence) yang berisi informasi dasar yang dibutuhlcan masyarakat.

b.    Fase kedua, fase interaksi yaitu isi informasi yang ditampilkan lebih bervariasi, seperti fasilitas download dan komunikasi e-mail dalam website web pemerintah.

c.   Fase ketiga, tahap transaksi berupa penerapan aplikasi atau formulir untuk secara online mulai diterapkan.

d.    Fase Keempat, fase transformasi berupa pelayanan yang terintegrasi, tidak hanya menghubungkan pemerintah dengan masyarakat tetapi juga dengan organisasi lain yang terkait (pemerintah ke antar pemerintah, sektor nonpemerintah serta sektor swasta)
 

2.2 Evaluasi Web dan Webmetrics  
        Ketepatan dan akurasi konten web merupakan salah satu ukuran dalam evaluasi konten web, yang dalam penelitian ini menggunakan istilah relevansi.[6] menyebutkan beberapa kriteria untuk evaluasi dan pemeringkatan website yaitu authority, objectivity, accuracy, coverage, dan timelines.
 

       Metode pemeringkatan yang dikembankan pada penelitian ini secara umum mencakup parameter tersebut di atas, namun dengan terminologi yang berbeda.
 

       Dua parameter utama yang dikembangkan lebih lanjut adalah relevansi- seperti yang sudah
dipaparkan sebelumnya, dan web productivity. Menurut [5] , web productivity secara matematis
dihitung dengan rumus: size/effort, dimana size adalah ukuran website- yang dapat diukur dengan jumlah halaman web pada sebuah website, sedangkan effort adalah upaya atau input yang digunakan untuk mengembangkan atau mengelola website. 


      Contoh input atau effort tersebut adalah biaya atau waktu yang diperlukan untuk mengembangkan website. Input biaya digunakan oleh [5], sedangkan penelitian yang dilakukan oleh [1] menggunakan traffic sebagai ukuran untuk effort untuk menghitung web productivity.

3. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan utama yaitu (1) tahap evaluasi relevansi halaman web dengan menggunakan algororitma TFxIDF; (2) Tahap penyimpanan hasil parsing dari teks HTML dan pengukuruan parameter webmetrics; dan (3) Tahap pengembangan model pemeringkatan website pemda di Indonesia dengan menggunakan parameter size,visibility, kekayaan dokumen, popularitas, relevansi, dan produktifitas. Gambaran umum tahapan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Pengembangan model pemeringkatan website pemda terdiri dari 2 proses utama yaitu (1) proses perhitungan parameter web yang dilakukan terhadap hasil parsing yang dihasilkan dari tahap pertama, dan (2) proses perhitungan peringkat dengan menggunakan 6 parameter web yang memperhitungkan pembobotan dari setiap parameter tersebut. Penjelasan setiap proses tersebut adalah sebagai berikut. Pemeringkatan website di Indonesia secara umum terdiri dari dua kelompok parameter yaitu (a) parameter yang dihasilkan dari penelitian ini yaitu relevansi dan productivity dan (b) parameter yang mengadaptasi dari parameter yang digunakan oleh lembaga pemeringkat lain yaitu size, visibility, kekayaan dokumen (rich files) yang mengacu ke webometrics serta popularitas yang mengacu kepada 4ICU. Proses utama perhitungan pemeringkatan adalah menghitung peringkat komposit berdasarka peringkat untuk setiap parameter yang telah dijelaskan di atas. Nilai peringkat komposit untuk setiap pemda dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut
CR; = WAR; + WAPi + WsS1 Wvrir WDDr WTTr  
Dimana: 
CR; adalah nilai komposit untuk website ke-1, dst  
WR adalah bobot untuk parameter web relevancy  
WA adalah bobot untuk parameter web productivity  
Ws adalah bobot untuk parameter size 
Wv adalah bobot untuk parameter visibility
WD adalah bobot untuk parameter Document Richness
WT adalah bobot untuk parameter popularity/Traffik
R adalah peringkat sebuah website untuk parameter Relevancy
P adalah peringkat sebuah website untuk parameter productivity
S adalah peringkat sebuah website untuk parameter Size
V adalah peringkat sebuah website untuk parameter Visibility
D adalah peringkat sebuah website untuk parameter Document Richness
T adalah peringkat sebuah website untuk parameter Popularity


 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
 

       Parameter size dengan menggunakan mesin pencari berkisar antara 101 sampai 1610000 dengan menggunakan mesin pencari Google. Parameter inbound link berkisar antara 0 sampai 4380000. Parameter kekayaan dokumen berkisar dari 0 sampai 28,200 dengan rata-rata 635 dokumen, dan parameter popularitas yang diukur dengan peringkat di www.alexa.com berkisar antara 1009 sampai 100209. Ada 81 website yang belum mempunyai peringkat di alexa.com, yang menunjukkan website tersebut masih sangat kurang pengunjungnya. Peringkat sepuluh besar untuk parameter size dan traffik tersebut selengkapnya dapat dilihat pada tabel.



Na
Size
Traffic
1
Prov. Kalteng
Kota Jaksel
2
Kota Tomohon
Kota Jaktim
3
Prov. Jateng
Kota Jakut
4
Prov. Papua
Prov. DKI Jakarta
5
Kab. Kebumen
Kota Jakbar
6
Kota Bontang
Kota Jakpus


7
Kota Bandung
Prov. Jabar
8
Provinsi Jatim
Kota Bandung
9
Kota Yogyakarta
Kota Balikpapan
10
Prov. Jabar
Prov. Jatim


      Hasil tersebut menunjukkan bahwa peringkat sepuluh besar untuk inbound link, dokumen, dan traffik diisi oleh pemda yang relatif tidak berubah. Website provinsi DKI Jakarta beserta 5 kotanya selalu masuk pada ketiga parameter tersebut. Namun untuk parameter size nama-nama pemdanya relatif berbeda dengan peringkat tiga parameter lainnya kecuali provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bandung.


5. KESIMPULAN DAN SARAN


      Hasil pengukuran relevansi konten diukur dengan algoritma TFxIDF yang sudah dikembangkan lebih lanjut dalam penelitian ini, sedangkan relevansi tautan internal diukur dengan TFxIDF inbound. Hasil pengukuran untuk relevansi konten menunjukkan bahwa nilai TFxIDF lokal berkisar antara 4,199 sampai 36,16 dengan rata-rata sebesar 25,05, Jumlah website yang tergolong menunjukkan bobot relevansi yang tinggi dengan nilai TFxIDF di atas rata-rata adalah sebanyak 109 pemda atau sebanyak 60 persen. Nilai TFxIDF inbound berkisar antara 2,391 sampai 30,417 dengan rata-rata sebesar 18,0. Jumlah website yang tergolong menunjukkan bobot relevansi yang tinggi dengan nilai TFxIDF di atas rata-rata adalah sebanyak 86 pemda atau sebanyak 47,5 persen.
     

     Algoritma pemeringkatan yang dipilih adalah pemeringkatan dengan enam parameter dengan memberikan bobot terbesar pada parameter relevansi, yang diikuti oleh parameter produktifitas dan popularitas, atau menggunakan skenario 4c. Parameter lainnya mempunyai bobot lebih rendah dan tiga parameter tersebut yaitu ukuran halaman, jumlah dokumen, dan visibilitas. Hasil pemeringkatan untuk pemda di luar jawa menujukkan bahwa website provinsi lebih dominan dibandingkan website kota atau kabupaten, sedangkan untuk di pulau jawa, website kabupaten dan kota lebih dominan dibandingkan web provinsi. Peringkat atas untuk web kota semuanya diisi oleh kota - kota di jawa, sedangkan untuk kabupaten hanya artikel departemen komunikasi dan kota diluar jawa yang masuk sepuluh besar.


 6. DAFTAR PUSTAKA


[1]    Alpar, P., M. Porembski, D.Volksw, and S. Pickerodt, 2009,

       Measurement of Productivity      of Websites, Schoolof Business Administration and
        Economics. Philipps University, Marburg,    Germany.
[2]    Departemen Komunikasi dan Informatika, 2004, Blueprint    Sistem    Aplikasi    e
        GovernmentDepartemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Jakarta.
[3]    Departemen Komunikasi dan Informatika, 2006, Kondisi Situs Web Pemerintah Daerah",
[4]    Dhyani, Devanshu, NG., Keong, Wee, dan Bhowmick Sourav, W., 2002, A Survey of Web 

        Metrics, ACM Computing Surveys, Vol., 34, No. 4 pp 469-503.
[5]    Mendez, Emilia. 2009, Web Cost Estimation, Productivity Assessment and Benchmarking,

        4th International Summer School on Software Engineering. University of Salermo, Italy,        
        September 24-27.
[6]    Murley, Diana, 2006, Evaluating and Rating Website and other Information Resources, SIU 

        Law Library.
[7]    Pinkerton, Brian, 1994, Web Crawler Fact, http://thinkpink.com/bp/WebCrawler/History.ht 

        ml, diakses tanggal 25 Maret 2010
[8]    Presiden Republik Indonesia, 2003, Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e- 

        Government, Instruksi Presiden No.3 Tahun 2003,
        http://www.deptan.go id/bdd/admin/i_presiden/ Inpres-03-03.pdf, diakses 10 September     

        2009,
[9]    Sergey, Brin and Lawrence, Page, 1998, The Anatomy of a Large-Scale Hypertextual Web

        Search Engine, Computer Science Department, Stanford University, Stanford, CA 94305, 
         USA




Sumber :


Model Pemeringkatan Website Pemerintah Daerah di Indonesi
 Oleh : Widya Sfifiantil, Mirma Yudha Firdausi2, Hanum Putri Permatasari3 
 Universitas Gunadarma